9 Kendala Dosen dalam Menulis Buku Ajar beserta Cara Mengatasinya

Salah satu kewajiban dosen yang harus dijalankan selain membimbing mahasiswa adalah menulis buku ajar. Namun, di balik itu, proses penyusunan karya ini dianggap sebagai tugas yang tidak gampang dan penuh tantangan. Ada berbagai kendala yang sering dosen alami ketika menulis buku ajar.

Banyak dosen yang akhirnya menunda atau kesulitan menyelesaikan naskah buku ajar mereka. Di antaranya karena terbentur oleh permasalahan di lapangan, entah itu data ataupun subjek penelitian.

9 Kendala Dosen dalam Menulis Buku Ajar beserta Cara Mengatasinya

Melalui artikel ini, kita akan mengupas berbagai kendala yang sering dialami oleh dosen ketika menulis buku ajar. Penasaran apa saja kendala-kendala tersebut? Yuk, intip uraian lengkapnya di bawah ini.

Apa itu Buku Ajar?

Sebelum masuk ke inti pembahasan, kita perlu mengetahui pengertian buku ajar terlebih dahulu. Berikut adalah beberapa definisinya menurut para ahli.

1. Suharjono

Menurut Suharjono, buku adalah buku yang digunakan sebagai buku pelajaran dalam bidang studi tertentu. Disusun oleh para ahli di bidangnya, buku ini berisi tujuan serta maksud instruksional.

2. Buckingham

Buckingham mengartikan buku ajar sebagai media belajar yang biasa dipakai di berbagai sekolah maupun perguruan tinggi untuk mendukung program pengajaran yang isinya mudah dipahami.

3. Ali Mudlofir

Bacon berpendapat bahwa buku ajar adalah buku yang berisi seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik dalam bentuk tulisan maupun tidak (audiobook).

4. Tarigan

Buku ajar adalah buku standar yang menjadi referensi resmi bidang studi tertentu yang berkualitas dan biasanya ada tanda pengesahan dari lembaga berwenang seperti Dinas Pendidikan atau Dikti. Ditulis oleh pakar yang ahli di bidangnya, buku ajar ditujukan untuk siswa SD, SMP, SMA/SMK, dan mahasiswa yang duduk di bangku perkuliahan.

Apa Kendala yang Sering Dosen Alami saat Menulis Buku Ajar?

Berikut adalah beberapa kendala utama yang sering dosen hadapi saat menyusun buku ajar.

1. Kebingungan memulai penulisan

Kendala pertama yaitu penulis sering merasa kebingungan pada tahap awal karena belum menemukan titik terang akan mulai dari mana. Tantangan ini muncul akibat dosen kesulitan menentukan langkah penulisan yang sistematis atau merasa buntu saat ingin menuliskan kalimat pertama.

Cara mengatasi masalah ini dapat dilakukan dengan berpijak pada Rencana Pembelajaran Semester (RPS) supaya materi tetap terarah. Apabila masih kesulitan, tuliskan apa pun yang terlintas di kepala meskipun belum sempurna. Sebab, proses perbaikan dan penyempurnaan naskah bisa dikerjakan lewat tahap penyuntingan.

2. Keterbatasan keterampilan menulis

Kendala dosen dalam menulis buku ajar yang kedua adalah kemampuan dan pengalaman menulis dosen yang terbatas. Hal ini membuat proses penyusunan naskah berjalan lambat dan terasa semakin berat seiring dengan berjalannya waktu.

Keterampilan dalam merangkai kata demi kata bukan bakat bawaan, melainkan dapat kita asah secara konsisten. Selain rajin membaca referensi, dosen dapat meningkatkan skill menulis dengan aktif mengikuti pelatihan kepenulisan. Selain itu, dosen mesti rajin menulis setiap hari demi meningkatkan kemampuan diri.

3. Keterbatasan waktu menulis

Beban kerja dosen yang tinggi membuat mereka kekurangan waktu luang untuk fokus menyusun naskah buku ajar. Berbagai kewajiban dan tanggung jawab seperti mengajar, melakukan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga mengurus administrasi membuat waktu menulis semakin tipis.

Waktu yang terbatas ini memicu tekanan psikologis bagi dosen untuk segera menyelesaikan naskah. Padahal, menulis buku ajar merupakan rangkaian proses panjang yang memerlukan ketelitian, pencarian referensi, serta pemahaman mendalam. Oleh karena itu, buku ajar tidak bisa dosen kerjakan secara terburu-buru.

4. Kesulitan menyesuaikan gaya bahasa

9 Kendala Dosen dalam Menulis Buku Ajar beserta Cara Mengatasinya

Buku ajar diperuntukan khusus bagi mahasiswa, sehingga gaya bahasa di dalamnya mesti dibuat sederhana agar mudah dipahami. Hal ini menjadi tantangan untuk dosen yang terbiasa memakai gaya bahasa formal dan bersifat akademis pada karya-karya ilmiahnya.

Penyesuaian perubahan gaya penulisan ini membutuhkan proses pembiasaan dan pengalaman yang panjang. Dengan terus mengasah dan sering menyusun buku ajar, dosen akan terbiasa dengan karakteristik dan keunikan gaya bahasa tersebut.

5. Belum memahami standar dan karakteristik buku ajar

Kendala yang sering muncul ketika menyusun buku ajar selanjutnya adalah kurang memahami standar penulisan, karakteristik, dan aturan penerbitan. Ketidaktahuan tentang hal ini kerap membuat naskah tertukar dengan jenis karya ilmiah lain sehingga berisiko ditolak oleh tim redaksi.

Salah satu cara untuk menghindari hal tersebut adalah dengan mempelajari pedoman penulisan buku ajar yang disediakan oleh perguruan tinggi atau penerbit. Dengan memahami standar dan aturan yang berlaku, proses penyusunan naskah buku ajar akan semakin lancar dan tepat waktu.

6. Menghadapi kebuntuan ide (writer’s block)

Kebuntuan ide merupakan masalah yang hampir dialami oleh setiap penulis, termasuk dosen yang sedang menyusun buku ajar. Ada beberapa faktor yang dapat memicu kondisi ini, seperti sikap yang terlalu perfeksionis dan kelelahan akibat beban kerja yang terlalu padat.

Dosen juga harus mengenali penyebab utama dari writer’s block supaya bisa menemukan solusi yang tepat. Misalnya, meminta bantuan rekan sesama dosen atau berkonsultasi dengan penyedia jasa penulisan profesional demi mengembalikan semangat menulis.

7. Akses referensi yang terbatas

Penulisan buku ajar membutuhkan data dan informasi dari sumber-sumber yang kredibel untuk melengkapi materi yang terdapat di RPS. Namun, tidak semua dosen bisa mengakses referensi tersebut dengan mudah. Sebab, isu yang diangkat masih langka atau terkendala biaya berlangganan jurnal internasional.

Agar dapat menghadapi situasi ini, dosen perlu mencari alternatif lain. Contohnya, meminta bantuan rekan sejawat, memanfaatkan fasilitas perpustakaan kampus, atau berdiskusi dengan mahasiswa demi mendapatkan referensi yang dibutuhkan.

8. Tantangan menambahkan elemen visual

Gambar, grafik, atau ilustrasi merupakan elemen-elemen visual yang bisa dimasukkan ke dalam buku ajar agar terlihat lebih menarik dan mudah dipahami. Namun, tidak semua dosen mempunyai kemampuan desain grafis atau anggaran untuk memakai aplikasi berbayar yang sesuai.

Saat ini, sudah banyak aplikasi desain yang murah bahkan gratis untuk pengguna pemula. Dosen dapat memanfaatkannya secara bertahap guna memperkaya tampilan visual dalam naskah buku ajar yang sedang ditulis.

9. Kesulitan menyusun latihan soal

Kendala dosen dalam menulis buku ajar yang terakhir adalah kesusahan ketika masuk ke bagian latihan soal guna mengukur pemahaman materi siswa atau mahasiswa. Hal ini dianggap sulit karena menuntut kreativitas agar soal atau tugas yang diberikan betul-betul efektif.

Sebenarnya, dosen tidak perlu merasa terbebani untuk membuat soal yang terlalu kompleks atau sempurna secara berlebihan. Selama latihan soal relevan dengan materi dan orisinal, maka buku ajar sudah memenuhi standar yang berlaku.

Nah, itulah penjelasan lengkap mengenai pengertian buku ajar dari para ahli dan sembilan kendala yang sering dosen alami saat menyusun buku ajar beserta cara mengatasinya. Semoga setelah membaca artikel ini, wawasan dan pengetahuan teman-teman terkait buku ajar semakin bertambah. Jangan biarkan kendala-kendala tersebut menghambat langkah kalian dalam membagikan ilmu yang berkualitas.

Selamat berkarya dan sampai jumpa di artikel menarik kami selanjutnya!

Baca artikel terkait