

Menyusun skripsi bukan sekadar memilih topik, mengumpulkan data, lalu menyusun pembahasan berdasarkan hasil penelitian. Sebagai mahasiswa, kamu juga perlu menunjukkan alasan akademik mengapa penelitian tersebut penting dilakukan.
Pada tahap inilah istilah research gap dan novelty menjadi penting. Keduanya sering muncul dalam proposal maupun skripsi, tetapi masih kerap dianggap sebagai istilah yang sama. Padahal, research gap dan novelty memiliki fungsi yang berbeda dalam penelitian.
Nah, apa saja perbedaan research gap dan novelty, dan berbagai hal seputar kedua istilah tersebut, selengkapnya bisa kamu simak pada ulasan di bawah ini. Simak sampai selesai, ya!
Baik, pertama mari kita bahas apa itu research gap. Research gap adalah celah, keterbatasan, pertanyaan yang belum terjawab, atau aspek tertentu yang belum diteliti secara memadai dalam penelitian terdahulu.
Celah tersebut menjadi alasan akademik yang dapat mendasari dilakukannya penelitian baru. Research gap tidak selalu berarti belum pernah ada penelitian mengenai topik tersebut. Justru, mahasiswa biasanya menemukan gap setelah membaca dan membandingkan sejumlah penelitian terdahulu.
Misalnya, beberapa penelitian telah membahas pengaruh penggunaan media sosial terhadap motivasi belajar mahasiswa. Namun, penelitian-penelitian tersebut hanya dilakukan pada mahasiswa perguruan tinggi di wilayah tertentu.
Belum ada penelitian yang menguji hubungan tersebut pada mahasiswa di perguruan tinggi vokasi dengan karakteristik berbeda. Kondisi tersebut dapat menjadi salah satu bentuk research gap.
Selanjutnya mari kita bahas definisi novelty. Novelty adalah unsur kebaruan yang ditawarkan oleh sebuah penelitian. Kebaruan tersebut dapat berupa perspektif, objek, metode, variabel, konteks, data, pendekatan analisis, maupun temuan yang memberikan kontribusi terhadap pengetahuan.
Novelty tidak harus selalu berarti menemukan teori baru. Dalam penelitian tingkat sarjana, kebaruan dapat muncul dari cara mahasiswa menerapkan konsep atau metode yang sudah ada pada konteks yang belum banyak diteliti.
Sebagai contoh, penelitian terdahulu menggunakan metode tertentu untuk menganalisis fenomena pada mahasiswa perguruan tinggi umum. Penelitian baru kemudian menerapkan pendekatan tersebut pada mahasiswa pendidikan vokasi dengan karakteristik yang berbeda. Jika pilihan konteks tersebut memberikan kontribusi yang jelas, aspek tersebut dapat menjadi bagian dari kebaruan penelitian.
Perbedaan research gap dan novelty dapat dipahami dari fungsi keduanya dalam penelitian, selengkapnya bisa kamu lihat pada tabel di bawah ini:
| Aspek | Research Gap | Novelty |
|---|---|---|
| Pengertian | Celah atau keterbatasan dalam penelitian terdahulu | Unsur kebaruan yang ditawarkan penelitian |
| Fokus | Menunjukkan apa yang belum terjawab atau belum memadai | Menunjukkan apa yang baru dari penelitian |
| Sumber | Ditemukan melalui kajian penelitian terdahulu | Dirancang berdasarkan gap dan tujuan penelitian |
| Fungsi | Menjelaskan alasan penelitian perlu dilakukan | Menjelaskan kontribusi atau pembaruan penelitian |
| Pertanyaan utama | “Apa yang masih belum diketahui?” | “Apa yang baru dari penelitian ini?” |
| Posisi dalam penelitian | Menjadi dasar untuk menentukan arah penelitian | Menjadi salah satu kontribusi penelitian |
Dengan demikian, research gap berkaitan dengan masalah atau celah dalam pengetahuan yang sudah ada. Sedangkan novelty berkaitan dengan kebaruan yang diberikan untuk merespons celah tersebut.

Setelah kita membahas definisi dan perbedaan dari keduanya, sekarang mari kita bahas hubungan dari kedua komponen penelitian ini. Research gap dan novelty memang berbeda, tetapi keduanya memiliki hubungan yang sangat erat.
Research gap dapat menjadi dasar untuk menentukan novelty penelitian. Alurnya dapat digambarkan secara sederhana:
Penelitian terdahulu → menemukan gap → merumuskan masalah → menentukan pendekatan → menghasilkan novelty atau kontribusi
Misalnya, kamu menemukan bahwa penelitian terdahulu telah membahas hubungan penggunaan teknologi digital dengan hasil belajar. Namun, belum banyak penelitian yang mengkaji bagaimana jenis teknologi tertentu memengaruhi hasil belajar pada kelompok mahasiswa dengan karakteristik khusus.
Gap tersebut kemudian dapat mengarahkan kamu untuk melakukan penelitian pada konteks yang belum banyak dikaji. Jika penelitian tersebut menghasilkan perspektif, data, atau temuan yang memberikan kontribusi baru, aspek tersebut dapat menjadi novelty.
Namun, perlu diingat bahwa tidak semua gap otomatis menjadi novelty. Gap hanya menunjukkan adanya ruang yang belum terisi. Penelitianmu masih perlu memberikan kontribusi yang jelas untuk mengisi ruang tersebut.
Lalu bagaimana cara menemukan research gap? Menemukan research gap tidak cukup dengan membaca satu atau dua jurnal.
Kamu perlu melakukan kajian literatur secara sistematis. Berikut langkah yang dapat dilakukan:
Mulailah dengan menentukan topik yang ingin kamu teliti. Topik tersebut sebaiknya cukup spesifik agar pencarian penelitian terdahulu lebih terarah.
Gunakan jurnal ilmiah, prosiding, buku akademik, dan sumber ilmiah lain yang relevan. Prioritaskan penelitian yang memiliki hubungan langsung dengan topik penelitianmu.
Jangan hanya membaca abstrak. Perhatikan tujuan penelitian, teori, metode, objek, variabel, hasil, keterbatasan, dan rekomendasi penelitian.
Kamu dapat membuat tabel sederhana untuk membandingkan penelitian terdahulu. Matriks ini akan membantu kamu melihat pola penelitian secara lebih jelas. Sebagai contohnya bisa kamu lihat pada tabel di bawah ini:
| Peneliti | Topik | Metode | Objek | Hasil | Keterbatasan/Gap |
|---|---|---|---|---|---|
| A | Topik X | Kuantitatif | Mahasiswa | Hasil A | Konteks terbatas |
| B | Topik X | Kualitatif | Siswa | Hasil B | Variabel tertentu belum dikaji |
| C | Topik Y | Kuantitatif | Guru | Hasil C | Hasil berbeda dengan penelitian A |
Bagian limitations dan future research sering memberikan petunjuk mengenai aspek yang masih dapat diteliti. Namun, jangan langsung menjadikan setiap saran sebagai research gap. Kamu tetap perlu memeriksa literatur lain untuk memastikan bahwa celah tersebut memang relevan dan belum terjawab.
Setelah menemukan research gap, tanyakan beberapa pertanyaan berikut:
Jika kamu dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan jelas, arah kebaruan penelitian akan lebih mudah ditentukan. Dan itulah caranya menentukan novelty dari penelitianmu.
Selanjutnya, mari kita bahas contoh sederhana dari research gap dan novelty. Misalnya kamu tertarik meneliti penggunaan kecerdasan buatan dalam pembelajaran mahasiswa.
Dari kajian literatur, kamu menemukan bahwa penelitian terdahulu telah membahas penggunaan AI untuk membantu mahasiswa menyelesaikan tugas. Namun, sebagian penelitian berfokus pada persepsi mahasiswa secara umum dan belum membahas bagaimana penggunaan AI memengaruhi kemampuan mahasiswa mengevaluasi informasi.
Dalam contoh tersebut, keterbatasan kajian mengenai kemampuan evaluasi informasi dapat menjadi research gap. Selanjutnya, kamu dapat merancang penelitian yang secara khusus menganalisis hubungan penggunaan AI dengan kemampuan evaluasi informasi mahasiswa menggunakan pendekatan yang sesuai.
Jika penelitian tersebut memberikan temuan baru mengenai hubungan kedua aspek tersebut pada konteks yang belum banyak dikaji, temuan dan pendekatan yang digunakan dapat menjadi bagian dari novelty penelitian.
Contoh ini menunjukkan bahwa novelty tidak muncul secara tiba-tiba. Kebaruan seharusnya memiliki hubungan yang logis dengan gap yang telah kamu identifikasi.
Nah, itulah berbagai hal terkait perbedaan research gap dan novelty. Research gap dan novelty merupakan dua konsep penting yang perlu dipahami mahasiswa sebelum menyusun skripsi.
Research gap menunjukkan celah atau keterbatasan dalam penelitian terdahulu. Sedangkan novelty menunjukkan unsur kebaruan atau kontribusi yang ditawarkan penelitian untuk merespons celah tersebut.
Semoga pemaparan di atas bisa membantumu di proses-proses awal penelitian skripsimu, ya. Tetap semangat!
Inilah daftar pertanyaan yang sering muncul terkait dengan perbedaan research gap dan novelty:
Research gap adalah celah atau keterbatasan dalam penelitian terdahulu, sedangkan novelty adalah unsur kebaruan atau kontribusi yang ditawarkan penelitian untuk mengisi atau merespons celah tersebut.
Tidak selalu. Research gap merupakan celah dalam pengetahuan atau literatur, sedangkan masalah penelitian merupakan persoalan yang kemudian dirumuskan untuk diteliti. Research gap dapat menjadi salah satu dasar dalam menentukan masalah penelitian.
Skripsi sebaiknya memiliki kontribusi yang jelas terhadap pengetahuan atau pemahaman mengenai objek yang diteliti. Namun, tingkat kebaruan yang diharapkan perlu disesuaikan dengan jenjang dan pedoman institusi masing-masing.
Belum tentu. Perbedaan objek perlu memiliki alasan akademik dan memberikan kontribusi yang jelas. Sekadar mengganti lokasi atau subjek penelitian tidak otomatis menghasilkan novelty.
Baca dan bandingkan beberapa penelitian yang relevan. Perhatikan tujuan, metode, objek, hasil, keterbatasan, dan rekomendasi penelitian. Dari perbandingan tersebut, kamu dapat mengidentifikasi aspek yang masih belum terjawab atau belum dikaji secara memadai.