Etika atau Aturan Penggunaan AI dalam Publikasi Ilmiah yang Perlu Dosen, Mahasiswa, Reviewer, sampai Editor Pahami

Penggunaan artificial intelligence (AI) dalam dunia akademik berkembang semakin luas. Teknologi ini dapat membuat sejumlah pekerjaan akademik menjadi lebih efisien, tetapi penggunaannya tetap membutuhkan pertimbangan etis.

Persoalannya, menggunakan AI dalam publikasi ilmiah tidak cukup hanya dengan mengetahui cara mengoperasikan tools tersebut. Akademisi juga perlu memahami batas penggunaannya, terutama ketika AI mulai memengaruhi isi naskah, proses penelitian, gambar, referensi, atau dokumen yang bersifat rahasia.

Etika atau Aturan Penggunaan AI dalam Publikasi Ilmiah yang Perlu Dosen, Mahasiswa, Reviewer, sampai Editor Pahami

Tanpa pemahaman yang tepat, penggunaan AI justru dapat menimbulkan masalah seperti referensi palsu, kesalahan informasi, pelanggaran hak cipta, kebocoran data, hingga persoalan integritas akademik. Karena itu, etika penggunaan AI dalam publikasi ilmiah menjadi hal yang penting dipahami oleh setiap pihak yang terlibat dalam proses penerbitan.

Aturan Terbaru Penggunaan AI dalam Publikasi Ilmiah

Elsevier melalui kebijakan Generative AI Policies for Journals memberikan panduan untuk penulis, reviewer, dan editor mengenai penggunaan AI secara bertanggung jawab. Kebijakan tersebut diperbarui pada Juni 2026 dan menekankan prinsip transparansi, pengawasan manusia, perlindungan data, serta tanggung jawab akademik.

Apa saja yang etika penggunaan AI dalam publikasi artikel ilmiah silakan melihatkan pada pemaparan di bawah ini. Simak sampai selesai, ya!

1. AI boleh digunakan untuk membantu penulisan, tetapi bukan menggantikan kontribusi ilmiah

Salah satu hal yang perlu dipahami sejak awal adalah bahwa Elsevier tidak melarang penggunaan AI dalam persiapan manuskrip. Penulis dapat menggunakan AI secara terbatas dan suportif untuk membantu proses penulisan.

Misalnya, AI dapat digunakan untuk membantu mengorganisasi struktur tulisan, meningkatkan kejelasan bahasa, meringkas literatur sebagai bagian dari proses persiapan, atau memeriksa kelengkapan naskah berdasarkan pedoman jurnal. Meski demikian, penggunaan tersebut tetap harus berada di bawah pengawasan dan kendali penulis.

AI tidak boleh mengambil alih proses berpikir ilmiah. Ide utama, analisis, interpretasi, kesimpulan, dan kontribusi ilmiah harus tetap berasal dari penulis.

Sebagai contoh, seorang mahasiswa dapat menggunakan AI untuk membantu memahami struktur artikel ilmiah atau memperbaiki kalimat yang sudah ia tulis. Namun, mahasiswa tersebut tetap perlu memahami isi artikel, memeriksa sumber, dan memastikan bahwa argumen yang disampaikan benar-benar berasal dari hasil pemikiran dan penelitiannya.

Hal yang sama berlaku bagi dosen dan peneliti. AI dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi tidak dapat dijadikan pengganti keahlian akademik. Setiap keluaran AI harus diperiksa kembali sebelum masuk ke dalam manuskrip.

2. Setiap output AI harus diverifikasi sebelum masuk ke naskah

Salah satu risiko terbesar penggunaan AI dalam publikasi ilmiah adalah munculnya informasi yang tidak akurat. Karena itu, penulis bertanggung jawab untuk memeriksa kebenaran, kelengkapan, dan ketidakberpihakan informasi yang dihasilkan AI.

Perhatian khusus perlu diberikan pada referensi. AI dapat memberikan judul artikel, nama penulis, tahun publikasi, DOI, atau kutipan yang tampak meyakinkan tetapi ternyata tidak sesuai dengan sumber aslinya. Elsevier secara khusus mengingatkan penulis untuk memeriksa sumber karena referensi yang dihasilkan AI dapat keliru atau bahkan dibuat-buat.

Karena itu, jangan menjadikan jawaban AI sebagai sumber ilmiah secara otomatis. Jika AI memberikan sebuah referensi, penulis tetap perlu membuka sumber aslinya, memastikan artikel tersebut benar-benar ada, membaca bagian yang relevan, dan memastikan bahwa informasi yang dikutip memang sesuai dengan isi sumber.

3. Penggunaan AI dalam manuskrip perlu diungkapkan secara transparan

Transparansi menjadi salah satu prinsip utama dalam kebijakan Elsevier. Penulis yang menggunakan AI dalam persiapan manuskrip perlu mencantumkan deklarasi penggunaan AI secara terpisah di dalam naskah. Deklarasi tersebut ditempatkan di bagian akhir manuskrip, sebelum daftar referensi.

Deklarasi perlu menjelaskan nama AI tool atau layanan yang digunakan, tujuan penggunaannya, serta menegaskan bahwa penulis telah meninjau dan mengedit hasil tersebut serta tetap bertanggung jawab atas isi artikel. Elsevier memberikan contoh format berikut:

“During the preparation of this work the author(s) used [NAME OF TOOL / SERVICE] in order to [REASON]. After using this tool/service, the author(s) reviewed and edited the content as needed and take(s) full responsibility for the content of the published article.”

Namun, tidak semua penggunaan AI harus dideklarasikan. Pemeriksaan dasar terhadap grammar, spelling, dan punctuation tidak memerlukan deklarasi.

Sebaliknya, jika AI melakukan perubahan substantif terhadap struktur kalimat atau organisasi suatu bagian teks, penggunaan tersebut perlu diungkapkan. Dengan demikian, penulis perlu melihat bukan hanya apakah AI digunakan, tetapi juga seberapa jauh AI memengaruhi proses penulisan.

4. AI tidak dapat dicantumkan sebagai author atau co-author

AI tidak dapat dicantumkan sebagai penulis atau co-author dalam artikel ilmiah. Alasannya berkaitan dengan tanggung jawab yang melekat pada status kepengarangan.

Seorang author harus mampu bertanggung jawab terhadap akurasi dan integritas karya, menyetujui versi akhir naskah, serta menyetujui pengajuan artikel untuk publikasi. Tanggung jawab tersebut hanya dapat dilakukan oleh manusia.

Karena itu, meskipun AI membantu menghasilkan teks, memberikan saran, atau membantu proses tertentu dalam penelitian, AI tetap tidak dapat memperoleh status kepengarangan.

Penulis manusia juga tetap bertanggung jawab memastikan bahwa karya tersebut orisinal, memenuhi kriteria authorship, tidak melanggar hak pihak ketiga, dan sesuai dengan standar etika publikasi.

5. Penggunaan AI untuk gambar tidak bisa disamakan untuk semua jenis visual

Aturan penggunaan AI dalam gambar menjadi salah satu bagian yang mengalami penjelasan lebih rinci dalam kebijakan Elsevier terbaru. Tidak semua gambar mendapatkan perlakuan yang sama. Elsevier membedakan gambar menjadi beberapa kategori, termasuk explanatory images, research and data images, graphical abstracts, dan cover art.

Explanatory images

AI dapat digunakan untuk membantu membuat gambar yang menjelaskan konsep, proses, atau hubungan tertentu. Contohnya adalah flowchart, decision tree, timeline, ilustrasi konseptual, atau diagram alur eksperimen.

Namun, penggunaannya tetap harus mengikuti prinsip pengawasan manusia dan transparansi. Penggunaan AI perlu disebutkan pada caption gambar dengan mencantumkan tools yang digunakan, versinya, serta bagaimana AI digunakan. Penggunaan tersebut juga perlu masuk dalam deklarasi AI secara umum di artikel.

Data visualizations

AI juga dapat digunakan untuk membantu membuat visualisasi data seperti grafik, plot, chart, atau heatmap, tetapi terdapat syarat penting. Visualisasi tersebut harus benar-benar berasal dari data penelitian dan dibuat melalui metode analitis, komputasional, atau statistik yang dapat direproduksi.

AI tidak boleh digunakan untuk mengarang hasil, mengubah data dasar, atau menghasilkan gambar yang tidak sesuai dengan data dan metode penelitian. Jika AI digunakan dalam proses tersebut, penggunaannya harus dijelaskan dalam bagian Methods.

Primary research images

Berbeda dengan visualisasi data, AI tidak boleh digunakan untuk membuat atau mengubah gambar yang merepresentasikan data observasi atau eksperimen utama. Contohnya meliputi gambar mikroskopi, histologi, western blot, hasil radiologi, atau gambar pasien.

Untuk jenis gambar tersebut, penulis harus menjaga keaslian data penelitian. Bahkan penyesuaian brightness, contrast, atau color balance pada gambar primary research harus menggunakan perangkat lunak pengolahan gambar yang sesuai, bukan AI generatif.

Graphical abstract

Untuk graphical abstract, general-purpose generative AI tidak boleh digunakan. Elsevier menganjurkan penggunaan dedicated scientific illustration tools karena platform tersebut umumnya memiliki ketentuan lisensi yang lebih jelas untuk kebutuhan publikasi ilmiah.

Dengan demikian, aturan AI untuk gambar harus dilihat berdasarkan jenis dan fungsi gambar, bukan sekadar berdasarkan pertanyaan apakah “AI boleh membuat gambar atau tidak”.

6. AI dalam proses penelitian harus dijelaskan di bagian methods

Penggunaan AI tidak hanya terjadi ketika seseorang menulis manuskrip. AI juga dapat menjadi bagian dari proses penelitian, misalnya dalam pengembangan kode, analisis data, pemodelan prediktif, atau metode pencitraan berbantuan AI.

Elsevier tidak melarang penggunaan AI dalam konteks tersebut. Namun, ketika AI menjadi bagian dari desain atau metode penelitian, penggunaannya harus dijelaskan secara rinci dan dapat direproduksi di bagian Methods. Informasi yang relevan dapat mencakup nama model atau tools, versi, serta pengembang atau produsennya jika tersedia.

Misalnya, apabila peneliti menggunakan AI untuk membantu analisis data, pembaca perlu mengetahui bagaimana AI tersebut digunakan dalam penelitian. Penjelasan ini penting agar metode penelitian dapat dipahami dan, sejauh memungkinkan, direplikasi oleh peneliti lain.

Aturan yang sama berlaku untuk penggunaan AI dalam pengembangan kode. Jika AI digunakan untuk menulis atau mengedit kode sebagai bagian dari penelitian, penggunaannya perlu dijelaskan dalam Methods dan tetap mengikuti standar validitas serta reproduktibilitas kode.

7. Privasi dan Hak Kekayaan Intelektual harus menjadi pertimbangan utama

Etika atau Aturan Penggunaan AI dalam Publikasi Ilmiah yang Perlu Dosen, Mahasiswa, Reviewer, sampai Editor Pahami

Sebelum memasukkan data atau manuskrip ke dalam AI, penulis perlu membaca ketentuan penggunaan dan kebijakan privasi tools tersebut. Hal ini penting karena setiap platform dapat memiliki aturan berbeda mengenai penyimpanan, penggunaan, dan pemrosesan data yang diberikan pengguna.

Elsevier meminta penulis memastikan bahwa privasi dan kerahasiaan data tetap terlindungi. Penulis juga perlu memperhatikan data pribadi, manuskrip yang belum diterbitkan, serta materi yang memiliki hak kekayaan intelektual.

Selain itu, pengguna perlu memastikan bahwa tools yang digunakan tidak memperoleh hak tambahan atas materi yang dimasukkan. Misalnya, penulis perlu memperhatikan apakah materi yang diunggah dapat digunakan untuk melatih model AI atau digunakan untuk tujuan lain di luar layanan yang diberikan.

Pertimbangan lainnya adalah hak atas output. Jika AI digunakan untuk menghasilkan materi yang akan dipublikasikan, penulis perlu memastikan bahwa ketentuan tools tersebut tidak membatasi penggunaan output untuk publikasi ilmiah.

Karena itu, memilih AI tool untuk kebutuhan akademik sebaiknya tidak hanya berdasarkan kemampuan teknisnya. Kebijakan privasi, keamanan data, ketentuan penggunaan, dan hak atas materi yang dimasukkan juga perlu diperiksa.

8. Dokumentasikan penggunaan AI agar prosesnya transparan

Selain membuat deklarasi, penulis sebaiknya menyimpan catatan mengenai penggunaan AI selama proses penelitian dan penulisan. Dokumentasi tersebut dapat mencakup nama tools, model yang digunakan, tujuan penggunaan, prompt atau instruksi yang relevan, hasil yang diberikan, serta bagaimana output tersebut diperiksa dan diedit.

Elsevier juga menyarankan agar penulis menyimpan dokumentasi penggunaan AI karena editor dapat meminta informasi tersebut. Dokumentasi semacam ini akan membantu ketika editor membutuhkan penjelasan mengenai penggunaan AI dalam sebuah manuskrip. Catatan tersebut juga membantu penulis memastikan bahwa proses penggunaan AI tetap dapat ditelusuri.

Untuk penelitian yang menggunakan AI sebagai bagian dari metode, dokumentasi bahkan menjadi semakin penting. Karena, pembaca perlu mengetahui bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk menghasilkan atau menganalisis data.

9. Reviewer boleh menggunakan AI, tetapi hanya dalam fungsi suportif

Aturan penggunaan AI bagi reviewer perlu dipahami secara cermat. Reviewer tidak diperbolehkan mengunggah manuskrip yang sedang direview, atau bagian apa pun darinya, ke AI tool. Manuskrip yang masuk dalam proses peer review merupakan dokumen rahasia dan dapat mengandung informasi yang belum dipublikasikan atau data pribadi.

Namun, kebijakan Elsevier terbaru tidak berarti reviewer sama sekali tidak boleh menggunakan AI. AI dapat digunakan dalam kapasitas suportif, misalnya membantu memperbaiki bahasa dan struktur laporan review atau membantu pencarian literatur latar belakang.

Yang tidak boleh digantikan oleh AI adalah penilaian ilmiah reviewer. Reviewer tetap harus menggunakan kemampuan kritis dan penilaian independennya untuk mengevaluasi metodologi, hasil, interpretasi, dan kontribusi ilmiah sebuah manuskrip.

Jika reviewer menggunakan AI untuk membantu menyiapkan laporan, penggunaan tersebut perlu diungkapkan dalam laporan review, termasuk tools yang digunakan dan tujuan penggunaannya. Pemeriksaan spelling, grammar, dan punctuation dasar tidak perlu dideklarasikan.

Selain itu, reviewer hanya boleh menggunakan private AI tools untuk fungsi suportif tersebut. Reviewer perlu memastikan bahwa tools tersebut tidak menyimpan, menggunakan kembali, membagikan, atau melatih model dengan materi yang dimasukkan.

10. Editor jurnal juga memiliki batasan dalam menggunakan AI

Editor jurnal menghadapi prinsip yang serupa. Manuskrip yang masuk dalam proses editorial harus diperlakukan sebagai dokumen rahasia. Karena itu, editor tidak boleh mengunggah manuskrip atau bagian dari manuskrip ke AI tool.

Meskipun demikian, AI dapat digunakan secara suportif selama tidak melibatkan pembagian isi manuskrip yang bersifat rahasia. Misalnya, editor dapat menggunakan AI untuk membantu memperbaiki bahasa atau struktur surat keputusan editorial atau membantu pencarian literatur latar belakang.

Hal yang paling penting adalah AI tidak boleh menggantikan penilaian dan keputusan editorial. Editor tetap bertanggung jawab terhadap proses evaluasi, keputusan akhir, serta komunikasi keputusan kepada penulis.

Dengan demikian, penggunaan AI oleh editor bukan berarti keputusan jurnal diserahkan kepada mesin. AI hanya berfungsi sebagai alat pendukung, sedangkan tanggung jawab dan keputusan tetap berada pada editor manusia.

Tabel Aturan Penggunaan AI Berdasarkan Peran

Nah, agar perbedaan tanggung jawab setiap pihak lebih mudah kamu pahami, berikut ringkasan aturan penggunaan AI berdasarkan perannya dalam publikasi ilmiah.

PeranPenggunaan AI yang DiperbolehkanBatasan UtamaKewajiban Transparansi
PenulisMembantu sintesis literatur, mengorganisasi tulisan, meningkatkan bahasa, membuat ide, dan mendukung tugas tertentu dalam persiapan manuskripTidak boleh menggantikan analisis, interpretasi, penilaian ilmiah, atau kontribusi intelektual penulisPenggunaan AI dalam persiapan manuskrip perlu dideklarasikan, kecuali penggunaan dasar untuk grammar, spelling, dan punctuation
Penulis/penelitiAI dapat digunakan dalam desain penelitian, analisis data, pengembangan kode, pemodelan, atau metode penelitian tertentuPenggunaannya harus valid, dapat dijelaskan, dan dapat direproduksi; AI tidak boleh memalsukan atau mengubah dataJelaskan penggunaan AI secara rinci di bagian Methods
Penulis untuk explanatory imagesMembantu membuat flowchart, timeline, diagram konseptual, atau workflow penelitianGambar harus diverifikasi dan mencerminkan ide penulisCantumkan tool, versi, dan cara penggunaan AI pada caption serta deklarasi AI
Penulis untuk data visualizationsMembantu menghasilkan plot, grafik, chart, atau heatmap yang berasal langsung dari data penelitianHarus berasal dari data dan metode yang dapat direproduksi; tidak boleh mengarang atau mengubah dataJelaskan penggunaan AI di bagian Methods
ReviewerMembantu memperbaiki bahasa/struktur laporan review atau pencarian literatur latar belakangTidak boleh mengunggah manuskrip atau bagian manuskrip ke AI; penilaian ilmiah tetap dilakukan manusiaPenggunaan AI untuk laporan review perlu diungkapkan; grammar/spelling dasar tidak perlu
EditorMembantu bahasa/struktur surat keputusan atau pencarian literatur latar belakangTidak boleh mengunggah manuskrip ke AI; AI tidak boleh menggantikan keputusan editorialPenggunaan AI harus mengikuti ketentuan jurnal dan tetap berada di bawah pengawasan manusia

Risiko jika AI Digunakan tanpa Memperhatikan Etika

Penggunaan AI tanpa verifikasi dapat menimbulkan berbagai persoalan dalam publikasi ilmiah. Salah satu risiko yang paling jelas adalah masuknya informasi yang salah atau referensi yang dibuat-buat ke dalam manuskrip. Elsevier bahkan menyebut bahwa referensi yang dibuat-buat dapat menjadi alasan penolakan manuskrip.

Risiko lainnya berkaitan dengan integritas penelitian. AI tidak boleh digunakan untuk membuat data, mengubah hasil penelitian, atau menghasilkan representasi yang tidak sesuai dengan data sebenarnya. Tindakan semacam itu dapat merusak validitas penelitian dan menimbulkan persoalan etika publikasi.

Masalah juga dapat muncul ketika pengguna memasukkan manuskrip atau data sensitif ke AI yang tidak memiliki perlindungan privasi memadai. Dalam konteks peer review dan editorial, tindakan tersebut dapat melanggar kerahasiaan serta hak kekayaan intelektual penulis.

Karena itu, persoalan utama bukan sekadar apakah seseorang menggunakan AI. Yang lebih penting adalah untuk apa AI digunakan, bagaimana AI digunakan, apakah penggunaannya transparan, dan apakah manusia tetap memegang kendali serta tanggung jawab atas hasil akhirnya.

Itulah berbagai hal terkait etika atau aturan penggunaan AI dalam publikasi ilmiah berdasarkan penerbit jurnal internasional Elsevier. Beberapa penerbit jurnal mungkin memiliki aturan yang berbeda, jadi pastikan kamu membaca pedoman dari tempatmu menerbitkan jurnal, ya.

FAQ tentang Etika Penggunaan AI dalam Publikasi Ilmiah

Inilah daftar pertanyaan yang sering muncul terkait aturan penggunaan AI dalam publikasi ilmiah:

1. Apakah penggunaan ChatGPT untuk menulis artikel ilmiah diperbolehkan?

Penggunaan AI dapat diperbolehkan sebagai alat bantu selama tetap berada di bawah pengawasan manusia. Penulis harus memeriksa dan mengedit output AI serta memastikan artikel tetap mencerminkan analisis, interpretasi, dan kontribusi ilmiahnya sendiri.

2. Apakah penggunaan AI dalam artikel ilmiah harus dicantumkan?

Ya, penggunaan AI dalam persiapan manuskrip perlu dideklarasikan, terutama jika AI membuat perubahan substantif pada teks. Namun, pemeriksaan dasar grammar, spelling, dan punctuation tidak memerlukan deklarasi.

3. Apakah AI boleh menjadi co-author artikel ilmiah?

Tidak. AI tidak dapat dicantumkan sebagai author atau co-author karena kepengarangan membutuhkan tanggung jawab dan persetujuan yang hanya dapat dilakukan oleh manusia.

4. Apakah reviewer boleh menggunakan AI untuk membantu melakukan review?

Reviewer dapat menggunakan AI secara suportif, misalnya untuk membantu bahasa dan struktur laporan atau pencarian literatur latar belakang. Namun, reviewer tidak boleh mengunggah manuskrip atau bagian manuskrip ke AI dan tetap harus melakukan penilaian ilmiah secara independen.

5. Apakah AI boleh digunakan untuk membuat gambar dalam artikel ilmiah?

Tergantung jenis gambarnya. AI dapat digunakan untuk explanatory images dan visualisasi data tertentu dengan persyaratan khusus. Sebaliknya, AI tidak boleh digunakan untuk membuat atau mengubah primary research images yang merepresentasikan data observasi atau eksperimen. General-purpose generative AI juga tidak boleh digunakan untuk membuat graphical abstract.

Baca artikel terkait