Angka Kredit Paten dan Pentingnya Memahami Paten bagi Dosen

Ketika membahas luaran penelitian, banyak dosen langsung memikirkan publikasi jurnal atau penerbitan buku. Padahal, paten juga merupakan luaran penelitian yang memiliki nilai strategis dalam pengembangan profesi dan karier akademik.

Bahkan, untuk penelitian yang menghasilkan inovasi teknologi, paten sering kali menjadi bentuk luaran yang lebih tepat dibandingkan publikasi ilmiah semata. Melalui Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 39/M/KEP/2026 tentang Petunjuk Teknis Layanan Pengembangan Profesi dan Karier Dosen, pemerintah memberikan pengakuan terhadap karya teknologi yang dipatenkan atau inovasi yang memperoleh sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HaKI).

Angka Kredit Paten dan Pentingnya Memahami Paten bagi Dosen

Besaran Angka Kredit yang dosen peroleh pun berbeda-beda, bergantung pada jenis paten dan tingkat penerapannya. Nah, berapa angka kredit paten bagi dosen? Mengapa setiap dosen perlu memahami paten? Simak penjelasannya berikut ini:

Apa Itu Paten?

Sebelum membahas Angka Kredit untuk paten, mari kita kupas dulu apa sebenarnya paten. Paten merupakan hak eksklusif yang diberikan negara kepada inventor (pencipta) atas suatu invensi (ciptaan) di bidang teknologi.

Hak tersebut memberikan kewenangan kepada inventor untuk menggunakan sendiri invensinya atau memberikan izin kepada pihak lain untuk memanfaatkannya dalam jangka waktu tertentu sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dengan memperoleh paten, dosen tidak hanya melindungi hasil penelitiannya, tetapi juga menunjukkan bahwa penelitian tersebut memiliki potensi untuk dimanfaatkan oleh masyarakat maupun industri. Nah, dalam dunia akademik, invensi dapat berupa:

  • produk teknologi;
  • alat kesehatan;
  • mesin atau perangkat baru;
  • metode produksi;
  • sistem pengolahan data;
  • teknologi tepat guna;
  • proses manufaktur; atau
  • inovasi lain yang memiliki unsur kebaruan dan dapat diterapkan.

Mengapa Paten Penting bagi Dosen?

Paten memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar perlindungan hukum. Bagi dosen, paten juga menjadi indikator bahwa penelitian yang dilakukan telah menghasilkan inovasi yang memiliki nilai tambah. Lebih detailnya berikut beberapa manfaat paten bagi dosen:

  1. melindungi hasil penelitian dari penggunaan tanpa izin;
    meningkatkan nilai luaran penelitian;
  2. mendorong hilirisasi hasil riset;
    membuka peluang kerja sama dengan dunia usaha dan industri;
    memperkuat rekam jejak akademik; serta
  3. mendukung pengembangan profesi dan karier dosen melalui perolehan Angka Kredit (AK).

Karena itu, dosen yang aktif melakukan penelitian terapan sebaiknya mulai mempertimbangkan paten sebagai salah satu target luaran penelitiannya.

Berapa Angka Kredit Paten bagi Dosen?

Salah satu keunggulan menghasilkan paten adalah besarnya Angka Kredit yang dapat dosen peroleh. Berdasarkan Juknis Layanan Pengembangan Profesi dan Karier Dosen Tahun 2026, besaran AK bergantung pada jenis paten dan tingkat pengakuannya, berikut rinciannya:

Jenis LuaranBukti KegiatanAK Maksimal
Paten internasional yang telah diterapkan di industri (diakui sedikitnya oleh 4 negara)Pindai halaman sampul dan bukti kinerja60 AK
Paten internasional (diakui sedikitnya oleh 4 negara)Pindai bukti kinerja dan sertifikat paten50 AK
Paten nasional yang telah diterapkan di industriPindai bukti kinerja (produk dan efisiensi) dan sertifikat paten40 AK
Paten nasionalPindai bukti kinerja dan sertifikat paten30 AK
Paten sederhana yang telah memiliki sertifikat dari Direktorat Jenderal Kekayaan IntelektualPindai bukti kinerja dan sertifikat paten20 AK

Tabel tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pengakuan dan pemanfaatan suatu invensi, semakin besar pula Angka Kredit yang dapat dosen peroleh. Namun, perlu kamu pahami bahwa angka di atas merupakan AK maksimal. Perolehan AK masing-masing dosen masih bergantung dengan ketentuan pembagian angka kredit berdasarkan posisi inventor atau kepengarangan sebagaimana peraturan yang tercantum dalam Juknis 2026.

Mengapa Paten Memiliki Nilai Angka Kredit yang Tinggi?

Angka Kredit Paten dan Pentingnya Memahami Paten bagi Dosen

Besarnya Angka Kredit paten bukan tanpa alasan. Apabila kita bandingkan dengan luaran penelitian lainnya, menghasilkan paten umumnya membutuhkan proses yang lebih panjang. Yang mana seorang dosen harus:

  1. melakukan penelitian yang menghasilkan invensi baru;
  2. membuktikan unsur kebaruan invensi;
  3. menyusun dokumen spesifikasi paten;
  4. melalui proses pemeriksaan substantif; dan
  5. memperoleh sertifikat paten dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual.

Selain itu, paten juga menunjukkan bahwa penelitian memiliki potensi penerapan dalam dunia nyata. Oleh karena itu, Juknis 2026 memberikan AK yang lebih tinggi untuk paten yang telah diterapkan di industri dibandingkan paten yang belum dimanfaatkan secara komersial.

Karya Seperti Apa yang Berpotensi Dipatenkan?

Tidak semua hasil penelitian dapat diajukan sebagai paten. Umumnya, invensi yang berpotensi memperoleh paten memiliki unsur kebaruan, langkah inventif, dan dapat diterapkan dalam industri.

Beberapa contoh hasil penelitian dosen yang berpotensi mendapatkan paten antara lain:

  • alat kesehatan inovatif;
  • mesin atau peralatan produksi;
  • teknologi pengolahan limbah;
  • metode pengolahan pangan;
  • perangkat elektronik;
  • teknologi pertanian;
  • sistem berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence);
  • metode analisis atau proses produksi baru.

Strategi Memanfaatkan Paten untuk Pengembangan Karier Dosen

Agar paten benar-benar memberikan manfaat bagi pengembangan profesi, kamu dapat menerapkan beberapa strategi berikut:

1. Rancang penelitian yang berorientasi pada inovasi

Sejak menyusun proposal penelitian, pikirkan potensi luaran yang dapat dipatenkan. Dengan begitu, penelitian tidak hanya menghasilkan artikel ilmiah, tetapi juga berpeluang menghasilkan invensi yang bernilai ekonomi.

2. Dokumentasikan seluruh proses penelitian

Simpan data penelitian, hasil pengujian, gambar teknis, hingga catatan laboratorium. Dokumen tersebut akan sangat membantu ketika menyusun permohonan paten.

3. Libatkan sentra HKI perguruan tingg

Hampir setiap perguruan tinggi memiliki unit atau sentra HKI yang dapat membantu dosen melakukan penelusuran kebaruan (prior art search), menyusun dokumen paten, hingga mengajukan permohonan ke DJKI. Memanfaatkan pendampingan tersebut dapat meningkatkan peluang permohonan paten terealisasi.

4. Integrasikan paten dengan publikasi ilmiah

Paten dan publikasi ilmiah bukanlah dua hal yang saling menggantikan. Justru, satu penelitian dapat menghasilkan beberapa luaran sekaligus, misalnya artikel jurnal, paten, buku referensi, dan luaran pengabdian kepada masyarakat. Strategi ini akan memperkuat rekam jejak akademik dosen secara lebih menyeluruh.

5. Dorong pemanfaatan invensi di dunia industri

Juknis 2026 menunjukkan bahwa paten yang telah diterapkan di industri memperoleh AK lebih tinggi dibandingkan paten yang belum diterapkan. Oleh karena itu, setelah memperoleh sertifikat paten, upayakan agar invensi dapat dimanfaatkan oleh mitra industri, pemerintah, atau masyarakat.

Itulah berbagai hal terkait Angka Kredit paten. Paten merupakan salah satu luaran penelitian yang memiliki nilai strategis dalam pengembangan profesi dan karir dosen.

Selain memberikan perlindungan hukum terhadap invensi, paten juga memperoleh Angka Kredit yang relatif tinggi daripada banyak luaran penelitian lainnya. Berdasarkan Juknis 2026, AK maksimal paten berkisar antara 20 hingga 60, bergantung pada jenis paten dan tingkat pemanfaatannya.

Oleh karena itu, dosen yang menghasilkan inovasi teknologi sebaiknya mulai menjadikan paten sebagai bagian dari strategi luaran penelitian. Dengan perencanaan yang tepat, satu penelitian dapat menghasilkan artikel ilmiah, paten, buku akademik, hingga kerja sama dengan industri, sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat sekaligus mendukung pengembangan karier akademik.

FAQ Seputar Angka Kredit Paten untuk Dosen

Berikut pertanyaan terkait Angka Kredit paten yang sering muncul:

Apakah paten memperoleh Angka Kredit?

Ya. Berdasarkan Juknis Layanan Pengembangan Profesi dan Karier Dosen Tahun 2026, paten memperoleh AK maksimal mulai dari 20 AK untuk paten sederhana hingga 60 AK untuk paten internasional yang telah diterapkan di industri.

Apakah semua penelitian dapat dipatenkan?

Tidak. Penelitian harus menghasilkan invensi yang memiliki unsur kebaruan, langkah inventif, dan dapat diterapkan dalam industri.

Mana yang lebih baik, paten atau jurnal?

Keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Jurnal menyebarluaskan hasil penelitian kepada komunitas ilmiah, sedangkan paten melindungi invensi dan membuka peluang pemanfaatan hasil penelitian. Jika memungkinkan, dosen sebaiknya menghasilkan keduanya dari satu penelitian.

Apakah paten sederhana juga memperoleh Angka Kredit?

Ya. Paten sederhana yang telah memiliki sertifikat dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual memperoleh AK maksimal 20 sesuai Juknis 2026.

Baca artikel terkait