

Meski setiap individu di masyarakat memiliki keinginan atau cita-cita yang berbeda, kehidupan sosial harus terus berjalan dengan damai dan teratur. Untuk mencapainya, kita membutuhkan suatu cara agar masyarakat senantiasa mematuhi aturan yang ada. Dalam sosiologi, sistem kerja nyata ini kita kenal dengan istilah pengendalian sosial.
Dengan adanya pengendalian sosial, dinamika hubungan antarindividu akan terpelihara dan harmonis di tengah berbagai perbedaan. Dengan begitu, kehidupan masyarakat tidak mudah kacau karena semua orang saling peduli dan tidak bertindak sesuka hati.
Melalui artikel ini, kita tidak hanya akan mempelajari pengertian dan fungsi pengendalian sosial, tapi juga memahami proses pengendalian sosial yang terbagi menjadi tiga bentuk. Harapannya, setelah membaca tulisan ini, teman-teman dapat lebih mengenal peranan penting nilai, norma, dan aturan dalam menjaga ketertiban masyarakat. Agar makin paham, yuk ikuti penjelasan lengkapnya di bawah ini.
Menurut Selo Soemardjan dan Soedarmadi, pengendalian sosial merupakan cara yang anggota masyarakat lakukan demi menciptakan keselarasan (konformitas) terhadap berbagai norma serta aturan yang berlaku. Tujuannya untuk mendorong adanya kerja sama dan solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat.
Sementara itu, Robert M.Z. Lawang mendefinisikan pengendalian sosial sebagai sekumpulan cara atau metode yang masyarakat pakai untuk mengamati dan mengarahkan individu agar berperilaku sesuai dengan norma yang disepakati bersama.
Beberapa fungsi utama pengendalian sosial yang perlu kita ketahui adalah:
Di bawah ini merupakan proses pengendalian sosial yang terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:
Pengendalian sosial ini berfokus pada penyampaian pesan secara halus tanpa ada unsur paksaan. Contohnya, guru memberikan nasihat, ajakan, dan bimbingan agar siswa sadar akan pentingnya mematuhi aturan sekolah. Dengan begitu, siswa dengan senang hati akan mengubah kelakuannya menjadi lebih baik.
Metode persuasif dapat dilakukan lewat obrolan ringan maupun kegiatan formal seperti sosialisasi. Dengan komunikasi yang baik, individu dapat memahami dampak buruk yang akan diterima jika melakukan penyimpangan sosial.
Berbeda dengan persuasif yang memakai cara halus, jenis pengendalian sosial koersif menggunakan tekanan, paksaan, hingga tindakan tegas supaya individu mau mematuhi aturan. Koersif akan digunakan saat teguran atau nasihat biasa tidak lagi dihiraukan. Tujuannya yaitu untuk menciptakan ketertiban secara cepat melalui efek jera.
Bentuk tindakan yang diterapkan bisa berupa sanksi fisik maupun penekanan psikologis sesuai tingkat pelanggaran yang dilakukan. Walau terdengar keras, cara ini sangat kita perlukan untuk menghadapi tindakan yang sudah membahayakan ketertiban umum.
Pengendalian sosial preventif adalah upaya pencegahan yang dilakukan dengan memberikan pemahaman dan pondasi moral sejak awal agar individu tidak tergoda untuk melakukan perilaku menyimpang. Cara ini menekankan antisipasi daripada penanganan setelah kejadian.
Contoh penerapan jenis pengendalian preventif adalah sebagai berikut:
Pengendalian represif merupakan tindakan ini akan berjalan setelah sebuah aturan atau norma sosial terlanjur dilanggar oleh individu atau kelompok. Tujuannya yaitu untuk memulihkan situasi yang sempat kacau supaya kembali tertib seperti sedia kala. Sanksi atau hukuman yang setimpal menjadi alat utama dalam metode ini.
Tiga contoh penerapan pengendalian represif adalah:

Pengendalian sosial formal adalah cara resmi dilakukan oleh lembaga negara yang memiliki kewenangan hukum, seperti kepolisian dan pengadilan. Seluruh proses penanganan pelanggaran wajib patuh terhadap aturan serta undang-undang yang berlaku. Jalan ini bisa kita tempuh untuk menyelesaikan pelanggaran yang bersifat berat dan terstruktur.
Contoh penerapan pengendalian sosial formal di masyarakat, yaitu:
Pengendalian sosial nonformal bisa masyarakat laksanakan secara langsung lewat gosip, teguran, sindiran, intimidasi, dan pengucilan terhadap orang-orang yang melakukan penyimpangan. Tidak ada aturan tertulis, tapi sanksi sosial sering kali lebih membekas.
Beberapa contoh penerapan pengendalian sosial nonformal yaitu:
Di bawah ini adalah beberapa pertanyaan sekaligus jawaban yang berkaitan dengan proses pengendalian sosial di masyarakat.
Pengendalian sosial bisa dilakukan oleh seluruh elemen masyarakat. Secara formal, kewajiban ini dijalankan oleh lembaga resmi seperti kepolisian, kejaksaan, pengadilan, dan sekolah. Namun secara nonformal, pengendalian sosial dapat dilaksanakan oleh keluarga, tokoh masyarakat, hingga warga sekitar lewat teguran atau nasihat.
Masyarakat akan mengalami konflik horizontal, angka kejahatan yang semakin meningkat, dan kehilangan rasa aman. Ketika anggota masyarakat terus melanggar nilai dan norma tanpa ada konsekuensi yang jelas, kepercayaan masyarakat akan hilang dan tatanan kehidupan sosial lambat-laun akan runtuh.
Efektivitas kedua jenis pengendalian sosial ini tergantung pada situasi dan tingkat pelanggaran. Cara persuasif umumnya lebih tepat untuk mencegah pelanggaran ringan dan membangun kesadaran masyarakat dalam jangka panjang. Namun, ketika aturan terus masyarakat langgar atau dampaknya membahayakan ketertiban umum, cara koersif sangat kita perlukan untuk memberikan efek jera secara cepat.
Hal ini karena sanksi nonformal langsung menyerang status sosial dan kesehatan mental individu di lingkungan tempat tinggalnya. Rasa malu, terabaikan, atau dicap buruk oleh tetangga dan teman dapat memberikan tekanan psikologis yang kuat serta berlangsung lama ketimbang sanksi formal yang bersifat sementara.
Nah, itulah penjelasan lengkap mengenai proses pengendalian sosial di masyarakat yang perlu kita pahami bersama. Semoga setelah membaca artikel ini, wawasan dan pengetahuan teman-teman terkait salah satu materi sosiologi ini semakin meningkat, ya!
Semangat belajar dan sampai jumpa di artikel menarik kami selanjutnya!